Dua pengguna gugat Polymarket di New York terkait penyelesaian pasar penjualan Bitcoin Strategy
Ringkasan Pasar AI
Dua pengguna menggugat Polymarket di New York dengan menuduh penolakan pembayaran yang tidak semestinya terkait pasar tentang penjualan Bitcoin Strategy, dengan klaim bahwa kriteria penyelesaian diubah setelah pengajuan SEC mengungkap penjualan 32 BTC. Kasus ini menyoroti risiko tata kelola dan penetapan aturan di pasar prediksi, yang berpotensi merusak kepercayaan dan partisipasi pengguna. Hal ini juga memperparah bayang-bayang regulasi karena CFTC dilaporkan menyelidiki operasi Polymarket.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
BTC/USDT+2.00%
Wawasan AI · BTC/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Menurut CoinDesk, dua pengguna menggugat platform pasar prediksi Polymarket di pengadilan negara bagian New York. Mereka menuding Polymarket secara keliru menolak pembayaran atas posisi yang mereka menangkan pada pasar yang terkait penjualan Bitcoin oleh Strategy.
Dalam gugatan disebutkan bahwa dokumen Strategy ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) mengungkap perusahaan menjual 32 Bitcoin pada periode pelaporan yang berakhir 31 Mei 2026. Meski begitu, pasar tersebut pada akhirnya diselesaikan dengan hasil "No".
Penggugat William Wood dan Thomas Bush menyatakan inti pertanyaan pasar adalah apakah Strategy (sebelumnya MicroStrategy) akan menjual Bitcoin sebelum 31 Mei 2026. Gugatan menyebutkan aturan awal pasar menetapkan dokumen SEC Strategy sebagai sumber utama penyelesaian, sehingga setiap penjualan yang diungkap dalam Form 8-K dinilai cukup untuk mendukung hasil "Yes".
Para penggugat menilai Polymarket kemudian menambahkan klarifikasi tambahan yang pada praktiknya mengubah pertanyaan dari "apakah penjualan terjadi" menjadi "apakah penjualan dikonfirmasi secara publik sebelum tenggat". Dengan tafsir itu, platform menyelesaikan pasar sebagai "No" dan menolak membayar pengguna yang memegang saham "Yes". Mereka menuduh aturan diubah setelah fakta.
Gugatan menekankan sengketa bukan soal ketidakjelasan fakta, melainkan perubahan kriteria penyelesaian setelah hasil sudah terjadi. Para penggugat berpendapat yang seharusnya ditentukan adalah apakah penjualan benar terjadi; dokumen SEC hanya bukti peristiwa, bukan pengganti penetapan kapan peristiwa itu terjadi. Mereka juga menilai jika platform bisa menyesuaikan interpretasi ketika hasil sudah terlihat, mekanisme pasar yang diklaim berjalan dengan aturan tetap akan terpukul.
Gugatan memuat sejumlah tuntutan, termasuk pelanggaran kontrak, pengayaan tanpa dasar, praktik komersial menyesatkan, dan iklan palsu. Para penggugat meminta ganti rugi, biaya pengacara, bunga, serta perintah pengadilan (injunctive relief). Sejumlah eksekutif dan entitas afiliasi juga turut disebut.
Perkara ini didaftarkan pada 3 Juli di New York State Supreme Court. Tergugat mencakup Adventure One QSS Inc., Blockratize Inc., pendiri Polymarket Shayne Coplan, Chief Marketing Officer Matthew Modabber, serta pihak lain yang belum disebutkan namanya.
Gugatan juga menyatakan bahwa meski Polymarket menggunakan Optimistic Oracle milik UMA untuk penyelesaian kontrak, penyusunan aturan pasar, penerbitan klarifikasi tambahan, pengelolaan halaman, dan perumusan pertanyaan tetap berada di bawah kendali platform. Karena itu, menurut penggugat, Polymarket tidak bisa sepenuhnya melempar sengketa pada proses oracle.
CoinDesk menambahkan, Polymarket belakangan menghadapi sorotan regulasi yang meningkat. Bloomberg sebelumnya melaporkan U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) tengah menyelidiki beberapa aspek operasi perusahaan, termasuk aktivitasnya di media sosial.