Trump Usul AS Ambil Alih Pengelolaan Selat Hormuz, SPR AS Turun ke Level Terendah Sejak 1983

Ringkasan Pasar AI
Usulan Trump untuk kendali AS atas Selat Hormuz dan potensi biaya transit meningkatkan risiko geopolitik dan rantai pasokan di sekitar titik sempit minyak utama. Dengan SPR berada pada level terendah sejak 1983 dan persediaan kemungkinan mengetat selama puncak permintaan AS, kondisi ini memperkuat tekanan kenaikan dalam jangka pendek pada patokan minyak mentah global. Biaya energi yang tetap lebih tinggi akan meningkatkan sensitivitas inflasi, sehingga memperumit ekspektasi untuk kebijakan Fed yang ketat secara berkelanjutan.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCCO1OILBRENT2USD/USDT+8.93%
Wawasan AI · NCCO1OILBRENT2USD/USDTWawasan AI
▲ Bullish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
BlockBeats melaporkan, pada 14 Juli Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat sebaiknya mengendalikan dan mengoperasikan Selat Hormuz. Ia juga mempertimbangkan pungutan bagi kapal yang melintas, dengan besaran setara 20% dari nilai kargo, untuk menutup biaya pengamanan jalur pelayaran tersebut. Trump menambahkan bahwa AS bisa melanjutkan aksi militer terhadap Iran. Militer AS dilaporkan telah melancarkan serangan udara ke Iran untuk malam ketiga berturut-turut. Sejumlah analis menilai arus pelayaran di Selat Hormuz belum kembali normal. Di saat yang sama, AS memasuki puncak musim perjalanan musim panas. Kondisi ini berpotensi membuat cadangan minyak pada Strategic Petroleum Reserve (SPR) serta persediaan minyak mentah komersial terus menurun, sehingga menopang tekanan kenaikan harga minyak internasional. Untuk pekan yang berakhir pada 3 Juli, SPR AS turun menjadi 319,5 juta barel, level terendah sejak 1983. Angka ini hanya sedikit di atas ambang minimum keselamatan yang direkomendasikan, sekitar 250 juta barel. Pelaku pasar memperkirakan bila gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama, harga acuan minyak mentah global dapat terus naik meski pasokan domestik AS relatif memadai. Kenaikan tersebut berisiko menambah tekanan inflasi dan meningkatkan peluang The Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi. Menanggapi wacana pungutan, Menteri Luar Negeri Iran Alireza阿拉格齐 menyatakan pihak yang menjamin kelancaran pelayaran di Selat Hormuz layak mendapat kompensasi, tetapi menilai tarif 20% terlalu berlebihan.