RBI Bantah Kekhawatiran Biaya Program Deposito FCNR(B) US$136 Miliar

Ringkasan Pasar AI
Gubernur RBI Malhotra membela program arus masuk FCNR(B) sebesar $136 miliar, dengan berargumen bahwa imbal hasil investasi dari cadangan yang digunakan melebihi biaya lindung nilai, menepis proyeksi adanya beban fiskal selama beberapa tahun. Skala tersebut secara bermakna meningkatkan penyangga devisa India dan mengurangi tekanan pembiayaan eksternal jangka pendek di tengah defisit dan arus keluar yang lebih tinggi yang didorong oleh minyak. Namun, arus konversi yang besar berisiko menciptakan likuiditas domestik berlebih, sehingga mendorong potensi sterilisasi melalui OMO dan instrumen cadangan.
Level dampak
● Sedang
Aset terdampak
NCFXUSD2INR/USDT-0.24%
Wawasan AI · NCFXUSD2INR/USDTWawasan AI
● Netral
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Bank sentral India menepis kritik terkait biaya program deposito valuta asing raksasa yang digelarnya tahun ini. Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Sanjay Malhotra menegaskan skema Foreign Currency Non-Resident (Bank) atau FCNR(B) justru menghasilkan tambahan pendapatan bersih bagi bank sentral, berseberangan dengan peringatan analis bahwa biaya lindung nilai (hedging) dapat menelan US$10,6 miliar dalam lima tahun. Program yang melampaui perkiraan RBI meluncurkan FCNR(B) pada awal Juni 2026 dengan proyeksi internal arus masuk hanya sekitar US$35 miliar hingga US$55 miliar. Hingga Agustus 2026, total dana yang masuk sudah melampaui US$136 miliar, dengan bank menghimpun US$127 miliar khusus melalui deposito FCNR(B). Sebagai perbandingan, cadangan devisa India sebelum program ini berada di kisaran US$700 miliar hingga US$730 miliar. Artinya, skema tersebut menambah bantalan dolar sekitar 18% hanya dalam hitungan bulan. Skema ini menyasar diaspora India dengan menawarkan bunga kompetitif 6% hingga 7% untuk deposito berjangka panjang, hampir dua kali lipat dari tingkat sekitar 3,5% yang lazim sebelum program berjalan. RBI juga menanggung penuh biaya hedging untuk deposito berjangka tiga hingga lima tahun yang dibuka pada periode 8 Juni hingga 30 September 2026. Insentif hedging itu dihentikan lebih cepat, pada 31 Agustus, mengindikasikan target tercapai lebih cepat dari perkiraan. Perdebatan soal biaya Sebagian analis menilai besarnya arus masuk US$136 miliar dapat membuat tagihan hedging secara teoritis mencapai US$10,6 miliar dalam lima tahun. Malhotra menolak premis bahwa dana tersebut hanya akan mengendap. Menurutnya, RBI berencana menempatkan dana itu pada surat utang pemerintah di luar negeri yang memberikan imbal hasil. Posisi RBI: pendapatan investasi dari penempatan sekitar US$136 miliar pada obligasi pemerintah asing akan lebih dari cukup untuk menutup biaya hedging. Alasan kebutuhan saat ini FCNR(B) 2026 muncul di tengah tekanan eksternal. Kenaikan harga minyak memperlebar defisit transaksi berjalan karena India mengimpor sebagian besar kebutuhan crude. Arus keluar modal juga menambah tekanan pada rupee. India pernah memakai skema serupa pada 2013 saat krisis rupee, meski skalanya jauh lebih kecil. Program saat itu menghimpun sekitar US$34 miliar dan dinilai sukses. Versi 2026 besarnya sekitar empat kali lipat. Mengelola lonjakan likuiditas Arus masuk US$136 miliar membawa konsekuensi ke sistem perbankan domestik. Saat dana diaspora masuk ke bank-bank India, sebagian dikonversi ke rupee, meningkatkan likuiditas di pasar uang. RBI mengakui potensi kelebihan likuiditas dan menyatakan akan menyerapnya melalui langkah-langkah seperti operasi pasar terbuka serta penyesuaian persyaratan cadangan bank.